Ashabul Kahfi (iii) : Bahagian Akhir

Lanskap Gua Ashabul Kahfi, Jordan

Salam. Aku ingat, malas nak sambung cite ni sbb panjang sangat. Ini pun ada yang aku potong sikit. Lagipun…. Ko orang boleh tanya sendiri kat Tamlikha Ibu Jah, atau Tam yang kat Haramain, tak pun Zun wanus Sy Lah Ali, depa mesti tau cite ni… Ok…

Kita sambung lagi. Tamlikha kemudian berkata: “Hai saudara-saudara, aku sajalah yang berangkat untuk mendapatkan makanan. Tetapi, hai penggembala, berikanlah bajumu kepadaku dan ambillah bajuku ini!” Setelah Tamlikha memakai baju penggembala, ia berangkat menuju ke kota. Sepanjang jalan ia melewati tempat-tempat yang sama sekali belum pernah dikenalnya, melalui jalan-jalan yang belum pernah diketahui. Setibanya dekat pintu gerbang kota, ia melihat bendera hijau berkibar di angkasa bertuliskan: “Tiada Tuhan selain Allah dan Isa adalah Roh Allah.”

Tamlikha berhenti sejenak memandang bendera itu sambil mengusap-usap mata, lalu berkata seorang diri: “Kusangka aku ini masih tidur!” Setelah agak lama memandang dan mengamat-amati bendera, ia meneruskan perjalanan memasuki kota. Dilihatnya banyak orang sedang membaca Injil. Ia berjalan dengan orang-orang yang belum pernah dikenal. Setibanya di sebuah pasar ia bertanya kepada seorang penjual roti: “Hai tukang roti, apakah nama kota kalian ini?” “Aphesus,” sahut penjual roti itu. “Siapakah nama raja kalian?” tanya Tamlikha lagi. “Abdurrahman,” jawab penjual roti. “Kalau yang kau katakan itu benar,” kata Tamlikha, “Urusanku ini sungguh aneh sekali! Ambillah wang ini dan berilah makanan kepadaku!” Melihat wang itu, penjual roti keheranan. Kerana wang yang dibawa Tamlikha itu wang zaman lampau, yang ukurannya lebih besar dan lebih berat.

Artifak kuno Jordan lama

Pendeta Yahudi yang bertanya itu kemudian berdiri lagi, lalu berkata kepada Ali bin Abi Talib: “Hai Ali, kalau benar-benar engkau mengetahui, cuba terangkan kepadaku berapa nilai wang lama itu dibanding dengan wang baru!” Saidina Ali menerangkan: “Kekasihku Muhammad Rasul Allah SAW menceritakan kepadaku, bahawa wang yang dibawa oleh Tamlikha dibanding dengan wang baru, ialah tiap dirham lama sama dengan sepuluh dan dua pertiga dirham baru!”

Saidina Ali kemudian melanjutkan ceritanya: Penjual Roti lalu berkata kepada Tamlikha: “Aduhai, alangkah beruntungnya aku! Rupanya engkau baru menemukan harta karun! Berikan semua itu kepadaku! Kalau tidak, engkau akan ku hadapkan kepada raja!” “Aku tidak menemukan harta karun,” sangkal Tamlikha. “Wang ini ku dapat tiga hari yang lalu dari hasil penjualan buah kurma seharga tiga dirham! Aku kemudian meninggalkan kota kerana orang-orang semuanya menyembah Diqyanius!”

Mungkin Tetap Begini Rupanya Roti Zaman Itu

Penjual roti itu marah. Lalu berkata: “Apakah setelah engkau menemukan harta karun masih juga tidak rela menyerahkan baki wangmu itu kepadaku? Lagi pula engkau telah menyebut-nyebut seorang raja derhaka yang mengaku diri sebagai tuhan, padahal raja itu sudah mati lebih dari 300 tahun yang silam! Apakah dengan begitu engkau hendak mempermain-mainkan aku?”

Lalu Tamlikha ditangkap. Kemudian dibawa pergi menghadap raja. Raja yang baru ini seorang yang dapat berfikir dan bersikap adil. Raja bertanya kepada orang-orang yang membawa Tamlikha: “Bagaimana cerita tentang orang ini?” “Dia menemukan harta karun,” jawab orang-orang yang membawanya. Kepada Tamlikha, raja berkata: “Engkau tak perlu takut! Nabi Isa AS memerintahkan supaya kami hanya memungut seperlima saja dari harta karun itu. Serahkanlah yang seperlima itu kepadaku, dan selanjutnya engkau akan selamat.” Tamlikha menjawab: “Tuanku, aku sama sekali tidak menemukan harta karun! Aku adalah penduduk kota ini!” Raja bertanya sambil keheranan: “Engkau penduduk kota ini?” “Ya. Benar,” sahut Tamlikha. “Adakah orang yang kau kenal?” tanya raja lagi. “Ya, ada,” jawab Tamlikha. “Cuba sebutkan siapa namanya,” perintah raja.
.
Tamlikha menyebut nama-nama kurang lebih 1,000 orang, tetapi tak ada satu nama pun yang dikenal oleh raja atau oleh orang lain yang hadir mendengarkan. Mereka berkata: “Ah…, semua itu bukan nama orang-orang yang hidup di zaman kita sekarang. Tetapi, apakah engkau mempunyai rumah di kota ini?” “Ya, tuanku,” jawab Tamlikha. “Utuslah seorang menyertai aku!” Raja kemudian memerintahkan beberapa orang menyertai Tamlikha pergi. Oleh Tamlikha mereka diajak menuju ke sebuah rumah yang paling tinggi di kota itu. Setibanya di sana, Tamlikha berkata kepada orang yang mengiringnya: “Inilah rumahku!”
.
Pintu rumah itu lalu diketuk. Keluarlah seorang lelaki yang sudah sangat lanjut usia. Sepasang alis di bawah keningnya sudah putih dan mengkerut hampir menutupi mata kerana sudah terlampau tua. Ia terperanjat ketakutan, lalu bertanya kepada orang-orang yang datang: “Kalian ada keperluan apa?” Utusan raja yang menyertai Tamlikha menyahut: “Orang muda ini mengaku rumah ini adalah rumahnya!” Orang tua itu marah, memandang kepada Tamlikha. Sambil mengamat-amati, ia bertanya: “Siapa namamu?” “Aku Tamlikha anak Filistin!” Orang tua itu lalu berkata: “Cuba ulangi lagi!”

Tamlikha menyebut lagi namanya. Tiba-tiba orang tua itu sujud di depan kaki Tamlikha sambil berucap: “Ini adalah datukku! Demi Allah, ia salah seorang di antara orang-orang yang melarikan diri dari Diqyanius, raja derhaka.” Kemudian diteruskannya dengan suara terharu: “Ia lari berlindung kepada Yang Maha Perkasa, Pencipta langit dan bumi. Nabi kita, Isa AS, dahulu telah memberitahukan kisah mereka kepada kita dan mengatakan bahawa mereka itu akan hidup kembali!”

Peristiwa yang terjadi di rumah orang tua itu kemudian dilaporkan kepada raja. Dengan menunggang kuda, raja segera berangkat menuju ke tempat Tamlikha yang sedang berada di rumah orang tua tadi. Setelah melihat Tamlikha, raja segera turun dari kuda. Oleh raja Tamlikha diangkat ke atas bahunya, sedangkan orang banyak beramai-ramai mencium tangan dan kaki Tamlikha sambil bertanya-tanya: “Hai Tamlikha, bagaimana keadaan teman-temanmu?” Kepada mereka Tamlikha memberi tahu, bahawa semua temannya masih berada di dalam gua. “Pada masa itu kota Aphesus diurus oleh dua orang bangsawan istana. Seorang beragama Islam dan seorang lainnya lagi beragama Nasrani. Dua orang bangsawan itu bersama pengikutnya masing-masing pergi membawa Tamlikha menuju ke gua,” demikian Saidina Ali melanjutkan ceritanya.

Teman-teman Tamlikha semuanya masih berada di dalam gua itu. Setibanya dekat gua, Tamlikha berkata kepada dua orang bangsawan dan para pengikut mereka: “Aku khuatir kalau sampai teman-temanku mendengar suara tapak kuda, atau bunyi senjata. Mereka pasti menduga Diqyanius datang dan mereka bakal mati semua. Oleh kerana itu kalian berhenti saja di sini. Biarlah aku sendiri yang akan menemui dan memberitahu mereka!”

Semua berhenti menunggu dan Tamlikha masuk seorang diri ke dalam gua. Melihat Tamlikha datang, teman-temannya berdiri kegirangan, dan Tamlikha dipeluknya kuat-kuat. Kepada Tamlikha mereka berkata: “Puji dan syukur bagi Allah yang telah menyelamatkan dirimu dari Diqyanius!” Tamlikha bertanya: “Ada urusan apa dengan Diqyanius? Tahukah kalian, sudah berapa lamakah kalian tinggal di sini?” “Kami tinggal sehari atau beberapa hari saja,” jawab mereka. “Tidak!” sangkal Tamlikha. “Kalian sudah tinggal di sini selama 309 tahun! Diqyanius sudah lama meninggal dunia! Generasi demi generasi sudah lewat silih berganti, dan penduduk kota itu sudah beriman kepada Allah yang Maha Agung! Mereka sekarang datang untuk bertemu dengan kalian!”

Teman-teman Tamlikha menyahut: “Hai Tamlikha, apakah engkau hendak menjadikan kami ini orang-orang yang menggemparkan seluruh dunia?” “Lantas apa yang kalian inginkan?” Tamlikha kembali bertanya. “Angkatlah tanganmu ke atas dan kami pun akan berbuat seperti itu juga,” jawab mereka. Lalu mereka bertujuh semua mengangkat tangan ke atas, kemudian berdoa: “Ya Allah, dengan kebenaran yang telah Kau perlihatkan kepada kami tentang keanehan-keanehan yang kami alami sekarang ini, cabutlah kembali nyawa kami tanpa pengetahuan orang lain!”

Allah SWT mengabulkan permohonan mereka. Lalu memerintahkan Malaikat Maut mencabut kembali nyawa mereka. Kemudian Allah SWT melenyapkan pintu gua tanpa bekas. Dua orang bangsawan yang menunggu-nunggu mendekati gua, berpusing-pusing selama tujuh hari untuk mencari-cari pintunya, tetapi tidak berjumpa. Pada saat itu dua orang bangsawan tadi menjadi yakin tentang betapa hebatnya kekuasaan Allah SWT.

Bangsawan yang beragama Islam lalu berkata: “Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah tempat ibadah di pintu gua itu.” Sedang bangsawan yang beragama Nasrani berkata pula: “Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah biara di pintu gua itu.”

Dua orang bangsawan itu bertengkar, dan setelah melalui pertikaian senjata, akhirnya bangsawan Nasrani diterkalahkan oleh bangsawan yang beragama Islam. Dengan terjadinya peristiwa tersebut, maka Allah berfirman: “Dan begitulah Kami menyerempakkan mereka, supaya mereka mengetahui bahawa janji Allah adalah benar, dan bahawa saat itu tidak ada keraguan padanya. Apabila mereka berbalahan antara mereka dalam urusan mereka, maka mereka berkata, “Binalah di atas mereka satu bangunan; Pemelihara mereka sangat mengetahui mengenai mereka.” Berkata orang-orang yang menguasai atas urusan mereka, “Kami akan membina di atas mereka sebuah masjid.”

Masjid Ahlul Kahf

Sampai di situ Saidina Ali bin Abi Talib berhenti menceritakan kisah para penghuni gua. Kemudian berkata kepada pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu: “Itulah, hai Yahudi, apa yang telah terjadi dalam kisah mereka. Demi Allah, sekarang aku hendak bertanya kepadamu, apakah semua yang ku ceritakan itu sesuai dengan apa yang tercantum dalam Taurat kalian?”

Pendeta Yahudi itu menjawab: “Ya Abal Hasan, engkau tidak menambah dan tidak mengurangi, walau satu huruf pun! Sekarang engkau jangan menyebut diriku sebagai orang Yahudi, sebab aku telah bersaksi bahawa tiada tuhan selain Allah dan bahawa Muhammad adalah hamba Allah serta Rasul-Nya. Aku pun bersaksi juga, bahawa engkau orang yang paling berilmu di kalangan umat ini. Inilah ceritanya yang detail, teragak-agak nak aku post, sebab terlalu panjang. Kali ni je kot….. jumpa lagi.

Homestay Ikhwan Jerash. 9.34am, Jun 21, 2011

Advertisements

7 thoughts on “Ashabul Kahfi (iii) : Bahagian Akhir

  1. saya pernah tengok cerita tamlikha ini dalam film. Cerita yang sangat detail.

    Ada versi yang mengatakan mereka mati ada pula yang bilang mereka ghaib dan akan dzahir kembali menjadi tentara Imam Mahdi.

    kalau boleh tahu, cerita2 mengenai Ashabul Kahfi ini sumbernya dari kitab2 apa saja ya syeikh. Untuk pengetahuan saya saja…

  2. tuan, boleh tak saya tanya, mengenai ini :

    “Pada masa itu kota Aphesus diurus oleh dua orang bangsawan istana. Seorang beragama Islam dan seorang lainnya lagi beragama Nasrani.

    artinya ketika bara ashabul kahfi ini bangun dari tidurnya, mereka sudah ada di zaman islam ? maksudnya, setelah zaman Rasulullah SAW ?

  3. Asslamualaikum Tuan,
    Terima kasih mencoretkan cerita yang menarik sebegini. Ralit saya membacanya. Namun, saya masih ternanti-nanti, apa jawapan Saidinia Ali kepada soalan-soalan akhir berikut;

    Beritahukan kepada kami apa yang dikatakan oleh burung puyuh di saat ia sedang berkicau!
    Apakah yang dikatakan oleh ayam jantan di kala ia sedang berkokok!
    Apakah yang dikatakan oleh kuda di saat ia sedang meringkik?
    Apakah yang dikatakan oleh katak di waktu ia sedang bersuara?
    Apakah yang dikatakan oleh keledai di saat ia sedang meringkik?
    Apakah yang dikatakan oleh burung pipit pada waktu ia sedang berkicau?”

    Kalau tidak keberatan… didahulukan dengan berbanyak terima kasih.

    • w’slm. Terima kasih Naim, sanggup membaca cite yang anjang coretkan. Naim, anjang sibuk sangat tak dan nak semak balik tapi dari riwayat yang anjang dapat, bahagian tu memang tertinggal. Tak berani anjang nak menokok tambah. anjang cuba cari, kalau jumpa, nanti (tak tau bila), anjang akan cuba sempurnakan. tq

  4. Pingback: Kisah Ashabul Kahfi | bambangbelajar

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s